Literasi Baca Tulis Anak: Di Mana Posisi Indonesia?

May 14, 2019

Literasi baca tulis adalah salah satu indikator paling penting dalam menentukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia suatu negara. Tingginya minat baca pada usia dini dapat membentuk pola pikir jangka panjang yang nantinya berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan pengolahan informasi. Oleh karena itu, di era digital, dimana informasi berkembang pesat tanpa batas, dua keterampilan ini menjadi modal penting yang dapat menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pada tataran global, literasi baca tulis anak usia 15 tahun menjadi salah satu kompetensi yang dinilai melalui Programme for International Student Assessment (PISA). Selain baca-tulis, kompetensi lain yang diukur pada perhelatan yang digelar tiga tahun sekali oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini adalah matematika dan sains.

Berdasarkan hasil PISA 2015, kemampuan membaca anak 15 tahun di Singapura menduduki peringkat pertama dari 73 negara yang berpartisipasi, sementara Indonesia hanya berada di peringkat 67.1 Di balik hasil PISA2015 yang belum optimal, sebenarnya Indonesia mengalami sedikit peningkatan literasi baca tulis dari PISA 2012, dimana Indonesia menempati posisi 57 dari 61 negara.2 Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan literasi baca tulis penduduk Indonesia berusia 15 hingga 24 tahun yang dikeluarkan oleh BPS pada tahun 2016, yaitu sebesar 99,67 persen. 3

Berkaca pada prestasi Singapura, peringkat pertama yang berhasil ditorehkan dalam penyelenggaraan PISA 2015, bukanlah hasil kerja sepihak apalagi instan. Pencapaian ini ditopang oleh konsistensi Singapura dalam memajukan pendidikan, di antaranya dengan menjaga rasio guru dan murid, menerapkan kurikulum yang sama di seluruh lembaga pembelajaran, serta meningkatkan kualitas tenaga pengajar. Ketiga faktor yang menyasar dua elemen penting dalam kegiatan belajar mengajartersebut terbukti krusial dalam mendorong keberhasilan Singapura meraih peringkat pertama PISA.4

Sistem pendidikan memadai yang menjadi kebanggaan Singapura ini bisa diadopsi oleh Indonesia. Alih-alih menghafal, anak dituntut untuk berpikir logis dalam proses pembelajaran yang situasional dan tepat waktu. Metode ini membuat proses belajar menjadi lebih riil dan menyenangkan. Setiap anak termotivasi untuk memberikan pendapat mengenai segala hal di setiap kesempatan, mulai dari sesi diskusi hingga penyampaian materi pelajaran. Dibarengi kurikulum yang senantiasa diperbarui, Singapura telah membuktikan bahwa rangkaian langkah di atas terbukti mampu meningkatkan kualitas pendidikan, terutama literasi baca tulis.

Meneladani keberhasilan Singapura, Indonesia dapat mengadopsi langkah-langkah pengembangan di atas sesuai kebutuhan dan kondisi bangsa saat ini. Diawali dengan penyeimbangan rasio guru dan murid, peningkatan investasi pendidikan, sampai penyeragaman kurikulum. Tentunya, butuh waktu dan proses yang panjang sebelum akhirnya Indonesia berhasil menuai prestasi. Namun dengan kontribusi aktif dari seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, cita-cita tersebut bukanlah sebuah angan yang mustahil.

Sebagai institusi pendidikan terintegrasi, Grup Mentari juga menaruh perhatian besar terhadap kemampuan literasi baca tulis anak usia dini.Untuk itu, melalui salah satu unit usahanya, yakni ASTA Ilmu, Grup Mentari menerbitkan seri buku cerita edukatif bertajuk Menjadi Indonesia yang bertujuan mendorong anak-anak untuk mengasah imajinasinya. Dengan gaya penulisan bercerita yang mengangkat keseruan petualangan Doni dan Nesia, seri buku ini sarat dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dicerna dengan mudaholeh anak-anak. Selain dapat meningkatkan minat baca, metode ini juga mampu mengubah stigma membosankan yangkerap dilontarkan anak-anak saat diajak membaca, menjadi sebuah kegiatan belajar yang lebih menyenangkan dan digemari.

Grup Mentari percaya bahwa keberadaan seri buku edukatif, seperti Menjadi Indonesia, berperan penting dalam menanamkan budaya verbal sejak dini. Setiap ilmu dan informasi yang disisipkan dan dikemas secara menarik dapat membangun interaksi positif antara murid dan guru. Dengan begitu, aktivitas membaca tidak hanya jadi lebih menyenangkan tetapi juga efektif dalam membangun pola pikir kritis.

Melalui penerbitan seri buku Menjadi Indonesia, Grup Mentari kembali menunjukkan kiprahnya dalam ranah pendidikan nasional. Selaras dengan slogan Bangun Pendidikan, Majukan Bangsa, yang merupakan sebuah upaya dan tujuan kolektif seluruh tenaga pendidik di Indonesia, Grup Mentari akan terus melahirkan terobosan baru menuju perwujudan cita-cita mulia tersebut.

Sumber data:

1 https://read.oecd-ilibrary.org/education/pisa-2015-results-in-focus_aa9237e6-en#page1

2 http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf

3 https://www.bps.go.id/dynamictable/2018/07/24/1542/angka-melek-aksara-penduduk-umur-15-24-tahun-menurut-jenis-kelamin-2015-2016.html

4 https://www.bbc.com/news/education-38212070