Urgensi Pengembangan Kompetensi Guru dan Lembaga Pendidikan

October 01, 2019

Indonesia memiliki permasalahan di bidang sumber daya manusia. Jumlah pekerja melimpah namun pendidikannya relatif rendah. Demikian ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti disadur Kompas pada 9 Maret 2019. Pertanyaannya, bagaimana menjawab permasalahan ini? Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas guru. Dengan guru-guru berkualitas, kualitas sumber daya manusia akan meningkat, kondisi ekonomi Indonesia pun akan tumbuh positif.

Mari tengok Singapura yang baru merdeka pada 1965. Jauh sebelum menduduki peringkat pertama Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) pada 2015, Singapura adalah negara miskin dengan sumber daya alam yang terbatas. Sekarang, Singapura bukan hanya berhasil mencatat kemajuan di bidang perdagangan, ekonomi, dan transportasi, tetapi juga di bidang pendidikan. Berbagai kalangan pendidik dari seluruh penjuru dunia bahkan jauh-jauh bertandang ke Singapura untuk mempelajari sistem pendidikannya, terutama untuk mata ajar sains, matematika, dan baca tulis.

Apa rahasia keberhasilan Pendidikan Singapura? Jawabannya sederhana, kurikulum pendidikan yang jelas yang disampaikan oleh guru-guru berkualitas di setiap sekolah. Persoalannya, guru yang berkualitas tidak lahir begitu saja, dibutuhkan sistem yang komprehensif untuk menyeleksi, melatih, menentukan kompensasi, dan mengembangkan kompetensi guru dan kepala sekolah. Khusus untuk pengembangan kompetensi, di Singapura, guru berhak atas 100 jam pengembangan profesi per tahun.

Di Indonesia, pengembangan profesi guru juga menjadi fokus pemerintah. Prinsip profesionalitas, kualifikasi, dan kompetensi tenaga pendidik diatur dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.Selain itu, perhatian pemerintah terhadap kualitas pendidikan di Indonesia juga tecermin melalui alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk bidang pendidikan yang selalu meningkat setiap tahun. Pada tahun 2019, dana APBN untuk pendidikan bertambah 10,8 persen menjadi Rp492 triliun,dengan alokasi untuk pelatihan gurusekitar Rp900 miliar,meningkat 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Alokasi tersebut dituangkan dalam bentuk program pelatihan dan pengembangan kompetensi guru, baik di dalam maupun luar negeri. Pada Februari hingga April lalu, 1.200 guru sekolah swasta dan negeri dikirim selama tiga pekan ke dua belas negara di tiga benua, yaitu Asia, Australia, dan Eropa, untuk melakukan studi banding. Di dalam negeri, berbagai program pengembangan profesi guru juga terus dilakukan. Pemerintah menyelenggarakan program Sertifikasi Guru, Sertifikasi Keahlian Ganda, dan Pengembangan Keprofesian Guru (PKB) untuk memastikan kualitas tenaga pengajar. Tidak cuma guru, pemerintah juga mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kependidikan untuk kepala sekolah dan pengawas sekolah guna memperbaiki kualitas lembaga pendidikan.

Meski serangkaian langkah tersebut menuai respons positif, tentu masih dibutuhkan pengembangan dan evaluasi lebih lanjut ke depannya. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) misalnya, menyuarakan dukungan peningkatan kompetensi melalui pelatihan guru yang dilakukan pemerintah, asalkan dilakukan secara simultan dan berkala. Lebih lanjut, PGRI juga menegaskan perlu reorientasi pelatihan guru agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Tentu saja, ini bukan menjadi pekerjaan rumah pihak pemerintah semata. Sebagai salah satu institusi yang menaruh kepedulian besar kepada kualitas SDM dan pendidikan, Grup Mentari pun ikut terpanggil untuk ambil bagian dalam program pengembangan profesi guru, yakni melalui Mentari Teachers Academy (MTA).

MTA adalah pusat pelatihan guru di bawah Grup Mentari yang fokus pada tiga mata pelajaran, yaitu bahasa Inggris, matematika, dan sains. Untuk peningkatan kemampuan bahasa Inggris tersedia tiga program, yaitu English for non-English Teachers (ENET) untuk guru mata ajar nonbahasa Inggris, English for English Teachers (EFET) untuk guru mata ajar bahasa Inggris, dan English for Principal untuk kepala sekolah dan pengurus yayasan.

Sementara di bidang matematika, MTA merancang dua program khusus untuk guru matematika di Sekolah Dasar, yakni Ultimaths dan Math by Topic. Ultimaths adalah pelatihan matematika intensif selama 5 hari yang membekali para guru dengan keterampilan tepat guna untuk mengajar matematika. Sedangkan Math by Topic merupakan kelanjutan dari program Ultimaths untuk mempelajari 5 topik secara lebih mendalam, yaitu Bilangan Bulat, Pecahan, Pengukuran, Geometri, dan Pemecahan Masalah. Tidak ketinggalan untuk guru matematika Sekolah Menengah Pertama (SMP), MTA menghadirkan program Math for Secondary. Selain itu, MTA juga memiliki program Science for Primary yang bertujuan membekali guru SD dengan pedagogi sains.

Pada aspek nonakademis, MTA menyediakan pelatihan sumber daya manusia untuk institusi/lembaga pendidikan, seperti pelatihan kepemimpinan dan pengembangan profesi lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan lembaga pendidikan.

Grup Mentari percaya bahwa kompetensi guru adalah salah satu aset penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan lebih jauh kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan program komprehensif dan dukungan pengajar serta bahan ajar berkualitas, MTA hadir sebagai salah satu wadah pengembangan profesi guru dan lembaga pendidikan di tanah air.

Sumber:
1 Di Kongres PGRI, Jokowi Ingatkan Tugas Guru di Era Digital
2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
3 Membedah Rahasia Kesuksesan Pendidikan Finlandia
4 What other countries can learn from Singapore’s schools
5 Anggaran Pendidikan APBN 2019
6 Kemendikbud Alokasikan Dana Rp 900 M untuk Pelatihan Guru
7 Anggaran untuk MGMP Dinilai Kurang Tepat
8 Perbaiki SDM, 1.200 Guru Dikirim Belajar ke Luar Negeri
9 Berhasil, Program Pelatihan Guru ke Luar Negeri
10 Pemerintah Terus Tingkatkan Kapasitas dan Kesejahteraan Guru
11 Berhasil, Program Pelatihan Guru ke Luar Negeri
12 Metode Pelatihan Guru Perlu Diubah